ISD Dalam Bidang Antropologi
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadiran Allah S.W.T karena berkat dan rahmat serta karunianya, saya dapat menyelesaikan tugas makalah softskill tentang Ilmu Sosial Dasar Dalam Bidang Antropologi. Dalam makalah ini dibahas yaitu pengertian dari Antropologi, cabang-cabang ilmu Antropologi, sejarah Antropologi, dan macam-macam Antopologi yang sangat berguna untuk menambah wawasan pembaca.
Saya juga menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih kurang sempurna, untuk itu saya menyarankan agar pembaca dapat memberikan saran agar penulisan makalah berikutnya jauh lebih sempurna dari sekarang.
Dan akhir kata saya mengucapkan terima kasih kepada pembaca yag sudah membaca atau menjadi bahan pembelajaran dalam makalah saya. Dan saya berharap agar isi makalah saya ini dapat bermanfaat untuk semua orang. Terima kasih wasaalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatu.
Penulis,
Jakarta 30 oktober 2011
DAFTAR ISI
JUDUL......................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR................................................................................. 2
DAFTAR ISI................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG.................................................................... 4
TUJUAN PENULISAN................................................................. 4
METODE PENULISAN............................................................... 4
BAB II ISI
PENGERTIAN ANTROPOLOGI................................................ 5
CABANG-CABANG ILMU ANTROPOLOGI ............................. 6
SEJARAH ANTROPOLOGI......................................................... 7
MACAM-MACAM ANTROPOLOGI.......................................... 9
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN............................................................................. 13
SARAN......................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam kenyataannya, Antropologi mempelajari semua mahluk manusia yang pernah hidup pada semua waktu dan semua tempat yang ada di muka bumi ini. Mahluk manusia ini hanyal ah satu dari sekian banyak bentuk mahluk hidup yang ada di bumi ini yang diperkirakan muncul lebih dari 4 milyar tahun yang lalu.
B. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dalam penulisan ini yaitu untuk memenuhi tugas ilmu sosial dasar yang pokok pembahasannya adalah ilmu sosial dasar dalam bidang antrologi. Selain itu penulisan ini juga bertujuan untuk menambah wawasan kepada pembaca.
C. METODE PENULISAN
Metode penulisan yang saya ambil dalam penulisan makalah ini yaitu dengan mencari sumber melalui internet dengan merangkumnya agar pembaca dapat mengerti dan memahami akasud makalah ini.
BAB II
ISI
A. PENGERTIAN SOSIOLOGI
suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Antropologi adalah istilah kata bahasa Yunani yang berasal dari kata anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos memiliki arti cerita atau kata.
Antropologi bukanlah satu satunya ilmu yang mempelajari manusia. Ilmuilmu lain seperti ilmu Politik yang mempelajari kehidupan politik manusia, ilmu Ekonomi yang mempelajari ekonomi manusia atau ilmu Fisiologi yang mempelajari tubuh manusia dan masih banyak lagi ilmuilmu lain, juga mempelajari manusia. Tetapi ilmu -ilmu ini tidak mempelajari atau melihat manusia secara menyeluruh atau dalam ilmu Antropologi disebut dengan Holistik, seperti yang dilakukan oleh Antropologi. Antropologi berusaha untuk melihat segala aspek dari diri mahluk manusia pada semua waktu dan di semua tempat, seperti: Apa yang secara umum dimiliki oleh semua manusia? Dalam hal apa saja mereka itu berbeda? Mengapa mereka bertingkah-laku seperti itu? Ini semua adalah beberapa contoh pertanyaan mendasar dalam studi-studi Antropologi.
Definisi Antropologi menurut para ahli adalah sebagai berikut :
1. William A. Havilland: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
2. David Hunter: anthropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
3. Koentjaraningrat: Anthropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
B. CABANG-CABANG ILMU ANTROPOLOGI
Secara garis besar ilmu Antropologi memiliki cabang-cabang yaitu :
A. Antropologi Fisik
• Paleoantrologi adalah ilmu yang mempelajari asal usul manusia dan evolusi manusia dengan meneliti fosil-fosil.
• Somatologi adalah ilmu yang mempelajari keberagaman ras manusia dengna mengamati ciri-ciri fisik.
B. Antropologi Budaya
• Prehistori adalah ilmu yang mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan budaya manusia mengenal tulisan.
• Etnolinguistik antrologi adalah ilmu yang mempelajari suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi.
• Etnologi adalah ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia.
• Etnopsikologi adalah ilmu yang mempelajari kepribadian bangsa serta peranan individu pada bangsa dalam proses perubahan adat istiadat dan nilai universal dengan berpegang pada konsep psikologi.
Di samping itu ada pula cabang ilmu antropologi terapan dan antropologi spesialisasi. Antropology spesialisasi contohnya seperti antropologi politik, antropologi kesehatan, antropologi ekonomi, dan masih banyak lagi yang lainnya.
C. SEJARAH ANTROPOLOGI
Dalam Sejarahnya Antropologi memiliki beberapa Fase yang , penyusunnya yaitu Koentjaraninggrat yang membagi fase-fase dalam 4 fase yaitu :
1. Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)
Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.
2. Fase Kedua (tahun 1800-an)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya
Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia
3. Fase Ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuacayang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.
1. Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.
Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.
Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.
Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.
D. MACAM-MACAM ANTROPOLOGI
Macam-macam Antropologi yaitu , Antropologi Biologis, Antropologi Budaya dan Antropologi Psikologis. Berikut adalah pengertian dari masing-masing Antropologi tersebut.
1. Antropologi biologis, juga disebut antropologi jasmani (physical anthropology) adalah cabang dari antropologi yang, dalam konteks primat pada umumnya, khusus meneliti perkembangan spesies manusia. Antropologi biologis mencakup peneltian biologis dan budaya tentang keanekaragaman manusia, evolusi manusia, dan pembandingan anatomi, perilaku, sejarah dan ekologi primat di masa lampau dan kini. Antropologi biologis terutama meneliti bukti fosil dan perkembangannya.
Antropolog biologis yang terkenal
- Egon Freiherr von Eickstedt
- Richard Leakey (1944- )
- Frank B. Livingstone (1928–2005)
- David Pilbeam
- Elwyn Simons
- Phillip V. Tobias (1925-)
- Alan C. Walker (1938- )
- Sherwood Washburn (1911–2000)
- Ralph Holloway (1935- )
- Milford H. Wolpoff (1942- )
- Tim White (1950- )
- Pardis Sabeti (1975- )
- Raymond Dart
- Robert Corruccini
- Eugenie C. Scott (1945- )
- Donald Johanson
- Yohannes Haile-Selassie
- A. Roberto Frisancho (1939- )
- Robert Jurmain
- Jane Goodall
- Kathy Reichs (Kathleen Joan Toelle Reichs)
- Colin Groves
- Linda Fedigan
- Meredith Small
- David Watts
- Richard Wrangham
- Russell Mittermeier
- William M. Bass
- Janet M. Monge
- Claude O. Lovejoy
2. Antropologi budaya adalah cabang antropologi yang berpusat pada penelitian variasi kebudayaan di antara kelompok manusia. Antropologi budaya mengumpulkan data mengenai proses ekonomi dan politik global atas budaya lokal. Para antropolog budaya menggunakan berbagai metode, termasuk pengamatan partisipatif (participant observation), wawancara dan angket statistik. Penelitian mereka sering dikatakan pekerjaan lapangan karena sang antropolog harus menetap untuk waktu yang cukup lama di lapangan penelitiannya.
Salah satu ucapan pertama tentang makna antropologis daripada istilah "kebudayaan" adalah oleh Sir Edward Burnett Tylor, antropolog asal Inggris yang menulis dalam halaman pertama bukunya yang terbit tahun 1897 : "Kebudayaan, atau peradaban, diambil dalam artinya yang luas dan etnografis, adalah keseluruhan yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, kesusilaan, hukum, adat-istiadat dan kemampuan dan kebiasaan lain mana pun yang didapati manusia sebagai anggota masyarakat. Istilah "peradaban" di kemudian hari diganti definisi oleh V. Gordon Childe, di mana "kebuyaan" menjadi istilah perangkum dan "peradaban" satu jenis khusus kebudayaan[
Wawasan antropologis tentang "kebudayaan" antara lain mencerminkan reaksi terhadap wacana sebelumnya di dunia Barat, yang didasarkan pada perlawanan antara "budaya" dan "alam", di mana sejumlah manusia dianggap masih hidup dalam "keadaan alamiah" Para antropolog menyatakan bahwa kebudayaan justru merupakan "alam manusia" dan semua manusia memiliki kemampuan untuk menyusun pengalaman, menterjamahkan penyusunan ini secara simbolis berkat kemampuan berbicara dan mengajar paham tersebut ke manusian lain.
Karena manusia mendapati kebudayaan lewat proses belajar enculturation dan sosialisasi, orang yang tinggal di tempat yang berbeda atau keadaan yang berbeda, mengembangkan kebudayaan yang berbeda. Para antropolog juga mengemukakan bahwa melalui kebudayaan, orang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara non-genetik, sehingga orang yang tinggal di lingkungan yang berbeda sering akan memiliki kebudayaan yang berbeda. Teori antropologi terutama berasal dari kesadaran dan minat akan perselisihan antara segi lokal (kebudayaan tertentu) dan global (kemanusiaan secara umum, atau jaringan hubungan antara orang di tempat atau keadaan yang berbeda).
Perkembangan antropologi budaya terjadi dalam konteks akhir abad ke-19, saat pertanyaan tentang kebudayaan manakah yang "primitif" dan yang mana "beradab" tidak hanya ada dalam benak Marx dan Freud tapi juga banyak orang lain. Kolonialisme dan prosesnya makin sering membuat pemikir asal Eropa berhubungan, secara langsung atau tidak langsung, dengan bangsa lain yang "primitif"]. Keadaan yang berbeda antara berbagai kelompok manusia, yang sebagian memiliki teknologi modern dan maju seperti mesin dan telegraf, sedangkan sebagian lain tidak memiliki apa-apa kecuali komunikasi tatap muka dan masih hidup dengan gaya Paleoliti, menarik perhatian angkatan pertama antropolog budaya.
Sejajar dengan perkembangan antropologi budaya di Amerika Serikat, di Inggris antropologi sosial, di mana "kesosialan" merupakan paham inti dan yang berpusat pada penelitian kedudukan dan peranan sosial, kelompok, lembaga dan hubungan antaranya, berkembang sebagai disiplin akademis. Suatu istilah perangkum, yaitu antropologi sosial-budaya, menunjuk baik ke antropologi budaya maupun sosial.
3. Antropologi psikologis adalah cabang dari antropologi yang bersifat interdisipliner dan mengkaji interaksi kebudayaan dan proses mental. Cabang ini terutama memperhatikan cara perkembangan manusia dan enkulturasi dalam kelompok budaya tertentu-dengan sejarah, bahasa, praktik, dan kategori konseptualnya sendiri-membentuk proses perolehan kognisi, emosi, persepsi, motivasi, dan kesehatan mental. Juga memeriksa tentang bagaimana pemahaman kognisi, emosi, motivasi, dan proses psikologis sejenis membentuk model proses budaya dan sosial. Setiap aliran dalam antropologi psikologis memiliki pendekatannya sendiri-sendiri.
Beberapa aliran dalam antropologi psikologis:
• Antropologi psikoanalitis
• Kebudayaan dan Kepribadian
• Etnopsikologi
• Antropologi kognitif
• Antropologi psikiatris
Perubahan yang terjadi akibat revolusi benar-benar mencengangkan. Struktur masyarakat yang sudah berlaku ratusan tahun rusak. Bangasawan dan kaum Rohaniwan yang semula bergemilang harta dan kekuasaan, disetarakan haknya dengan rakyat jelata. Raja yang semula berkuasa penuh, kini harus memimpin berdasarkan undang-undang yang di tetapkan. Banyak kerajaan-kerajaan besar di Eropa yang jatuh dan terpecah.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Antropologi bukanlah satu satunya ilmu yang mempelajari manusia. Ilmuilmu lain seperti ilmu Politik yang mempelajari kehidupan politik manusia, ilmu Ekonomi yang mempelajari ekonomi manusia atau ilmu Fisiologi yang mempelajari tubuh manusia dan masih banyak lagi ilmuilmu lain, juga mempelajari manusia. Tetapi ilmu -ilmu ini tidak mempelajari atau melihat manusia secara menyeluruh atau dalam ilmu Antropologi disebut dengan Holistik, seperti yang dilakukan oleh Antropologi. Antropologi berusaha untuk melihat segala aspek dari diri mahluk manusia pada semua waktu dan di semua tempat, seperti: Apa yang secara umum dimiliki oleh semua manusia? Dalam hal apa saja mereka itu berbeda? Mengapa mereka bertingkah-laku seperti itu? Ini semua adalah beberapa contoh pertanyaan mendasar dalam studi-studi Antropologi.
B. SARAN
Sebagai cabang ilmu yang mempelajari manusia dengan kebudayaan, perilaku dan keanekaragaman ada baiknya kita saling menghargai kebudayaan dinegara kita indonesia. Walaupun keanekaragaman kita berbeda-beda dari sabang sampai marauke kita harus memiki toloransi dan saling menghargai yang tinggi. Dan saling mengetahui keanekaragaman dan kebudayaan kita masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar